Jago Lagu
  • Jumat, 05 Mar 2021
  •  

Oops, 4 Kuliner Yogyakarta yang Hampir Punah, Kethak Blondo hingga Besengek Tempe Benguk

Oops, 4 Kuliner Yogyakarta yang Hampir Punah, Kethak Blondo hingga Besengek Tempe Benguk

Oops, 4 Kuliner Yogyakarta yang Hampir Punah, Kethak Blondo hingga Besengek Tempe Benguk (Kompas)

Yogyakarta memiliki daya tarik tersendiri termasuk pesona kulinernya.

Tak hanya gudeg atau oseng-oseng mercon. Yogyakarta juga menyimpan beragam kuliner lainnya dan beberapa sudah mulai punah.

Sebut saja kethak blondo yang terbuat dari ampas pengolahan minyak kelapa yang dilakukan dengan proses pemanasan santan.


Ada juga besengek tempe benguk dengan bahan utama tempe yang dimasak bersama santan dengan api kecil sehingga tempe lunak dan beraroma bumbu.

Berikut 4  kuliner Yogyakarta yang hampir punah menurut buku Kuliner Yogyakarta Pantas Dikenang Sepanjang Masa yang ditulis Murdijati Gardjito DKK:


1. Apem di Pasar Ngasem

Lihat Foto

SHUTTERSTOCK/FOTONE AGUS


Ilustrasi apem selong (Jawa).

Salah satu pusat penjualan apem di Yogyakarta adalah di Pasar Ngasem salah satu pasar kuno yang ada sejak tahun 1925.


Yang unik, hingga saat ini di Pasar Ngasem masih ada penjual apem kue tradisional yang selalu ada di berbagai ritual masyarakay Yogyakarta.

Apem Pasar Ngasem digemari sebagai kudapan sehari-hari. Tak heran jika apem di Pasar Ngasem selalu terjual habi.

Rasanya manis, legit, gurih, dan mengenyangkan. Jika ingin lebih enak lagi, saat pesan apem dapat dengan tambahan telur.


2. Kethak blondo

Lihat Foto

belchonock


Ilustrasi minyak kelapa

Kethak blondo adalah ampas pengolahan minyak kelapa yang pembuatannya dengan cara proses pemanasan santan.


Jika santan dipanaskan, maka akan terpisah antara air yang menguap dan menyisakan minyak kelapa dan bahan padat warna putih yang kecoklatan yang populer disebut kethak atau blondo.

Tanpa dibumbui, blondo memiliki rasa gurih dan sedikit manis serta memiliki aroma yang harus.

Biasanya blondo dibumbui dengan bawang putih, cabai, dan sedikit garam. Blondo pun siap disajikan dengan nasi hangat dan lauk pauk lainnya.


Selain untuk lauk pauk, blondok biasanya sering digunakan untuk campuran 'areh' salah satu komponen dari gudeg.

Kethak blondo juga dapat dibumbui dengan gula yang disebut dengan kethak manis. Biasanya kethak manis dimakan dengan geblek makanan khas Kulonprogo yang terbuat dari ketela pohon.

3. Growol

Lihat Foto

KOMPAS.com/Dani J

Beberapa pedagang di Dusun Segajih saat sedang berlangsung pasar Ramadhan. Makanan yang dijajakan di sana memang biasa saja, misal ada geblek, makanan khas Kulon Progo. Kemudian tempe, thiwul, growol, dawet, ganyong rebus, gula kelapa, gula semut dan potensi hasil bumi asal Segajih.

Growol adalah makanan khas dari Kulonprogo yang terbuat dari singkong.

Makanan ini dibungkus dengan daun pisang. Proses pembuatannya cukup panjang. Awalnya singkong yang telah dikupas dicuci bersih lalu direndam selama 3 hari tiga malam tanpa diganti airnya.

Setelah lunak dan mengeluarkan bau asam karena fermentasi, singkong dicuci bersih dan dicacah atau ditumbuk halus.

Lalu singkong yang sudah halus dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang.

Rasa growol unik yakni tawar dan sedikit asam. Biasanya akn dinikmati dengan besengek tempe benguk atau kethak blondo.

4. Besengek tempe benguk

Lihat Foto

KOMPAS.com/NUR ROHMI AIDA

Besengek di Pasar Dhoplang

Besengek tempe benguk berbahan dasar tempe yang dimasak dengn santan yang dibumbui besengek.

Besengek adalah masakan dengan bersantan dengan bumbu dasar putih yakni bawang putih, bawang merah, ketumbar, kemiri, dan bumbu segarnya daun salam, laos, sereh, dan daun jeruk purut.

Tempe dimasak santan dengan api kecil hingga tempe lunak dan beraroma bumbu yang kuat. Biasanya besengek tempe benguk dimakan dengan geblek.

Geblek adalah makanan yang berbahan ketela atau tapioka yang tawar dan digoreng lebih dahulu sebelum disajikan.

Besengek tempe benguk banyak dibuat oleh masyarakat dari Dusun Nganggrung, Kabupaten Kulon Progo.

Seperti diatur, biasanya hanya ada satu penjual besengek tempe benguk di pasar-pasar tradisional di Yogyakarta. Oada umumnya, merek berjualan 2 hari sekali karena perendaman tempe benguk dilakukan selama dua hari.

(KOM)

Total dibaca: 63x | Berikan Komentar!


Redo Prakoso
Penulis : Redo Prakoso
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (1)
Bambang Pamungkas
21 Feb 2021, 07:10 WIB

ditunggu informasi selanjutnya

Tinggalkan Komentar
Ingatlah untuk selalu berkomentar dengan sopan sesuai pedoman situs ini
* Anda tidak memiliki akses untuk meninggalkan komentar *
TOPIK HANGAT

Jasa Pembuatan Aplikasi Website Custom!

Pesan Sekarang!

BERITA POPULER

Tahukah Kamu? Cerita 8 Remaja Lakukan "Prank" Pocong, Sopir Lari dan Truk Alami Kecelakaan