Jago Lagu
Jago Lagu

Parah! Profil dan Sejarah Kabupaten Jember

Parah! Profil dan Sejarah Kabupaten Jember

Parah! Profil dan Sejarah Kabupaten Jember (Kompas)

YukCopas.my.id - Kabupaten Jember, Jawa Timur menjadi sorotan setelah sang bupati dan sejumlah pejabat dikritik karena menerima honor Rp 70.500.000 dari pemakaman pasien Covid-19.

Bupati Jember dan sejumlah pejabat disebut memperoleh honor Rp 100.000 untuk satu pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Setelah menjadi sorotan publik, Bupati Jember Hendy Siswanto mengaku langsung mengevaluasi total seluruh regulasi dan peraturan bupati (perbub).

Profil dan Sejarah Kabupaten Jember


Profil Kabupaten Jember

Jember adalah sebuah wilayah kabupaten yang merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Timur.


Kabupaten Jember berada di lereng Pegunungan Yang dan Gunung Argopuro yang membentang ke arah selatan sampai dengan Samudera Indonesia.

Secara administratif, wilayah Kabupaten Jember berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Probolinggo di sebelah utara.

Kabupaten Lumajang di sebelah barat, Kabupaten Banyuwangi di sebelah timur, dan di sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia.


Kabupaten Jember terdiri dari 31 kecamatan, 22 kelurahan, dan 226 desa.


Sejarah Kabupaten Jember


Lihat Foto

digitalcollections.universiteitleiden

Foto Kantor Pos dan Telegraf Pembantu di Balung, Jember, Jawa Timur yang diambil tahun 1930


Hari Jadi Kota Jember dirayakan setiap tanggal 1 Januari sejak tahun 1929.

Penentuan Jadi Kota Jember berdasarkan pada sejarah pemerintahan kolonial Belanda, yaitu berdasarkan pada Staatsblad nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928.

Dikutip dari Jemberkab.go.id, dalam Staatsblad 322 tersebut, dijelaskan bahwa Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintahan desentralisasi di Wilayah Propinsi Jawa Timur.


Antara lain dengan  Regenschap Djember ebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri.

Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintahan Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, pada tanggal 21 Agustus 1928.

Semua ketentuan yang dijabarkan dalam staatsblad tersebut dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1929.

Hal inilah yang memberikan keyakinan kuat bahwa secara hukum Kabupaten Jember dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1929 dengan sebutan “REGENSCHAP DJEMBER”.

Pada 1 Januari 1929, Pemerintah Regenschap Jember terbagi menjadi 7 wilayah distrik.


Namun setelah diberlakukannya Staatsblad Nomor 46 tahun 1941 tanggal 1 Maret 1941 maka Wilayah Distrik dipecah-pecah menjadi 25 Onderdistrik, yaitu:

Distrik Jember, meliputi onderdistrik Jember, Wirolegi dan Arjasa

Distrik Kalisat, meliputi onderdistrik Kalisat, Ledokombo, Sumberjambe dan Sukowono

Distrik Rambipuji, meliputi onderdistrik Rambipuji, Panti, Mangli dan Jenggawah

Distrik Mayang, meliputi onderdistrik Mayang, Silo, Mumbulsari dan Tempurejo

Distrik Tanggul, meliputi onderdistrik Tanggul, Sumberbaru dan Bangsalsari

Distrik Puger, meliputi onderdistrik Puger, Kencong, Gumukmas dan Umbulsari

Distrik Wuluhan, meliputi onderdistrik Wuluhan, Ambulu dan Balung

Asal-usul nama Jember

Lihat Foto

digitalcollections.universiteitleiden

Foto Kantor Pos dan Telegraf Pembantu di Kalisat, jJember, Jawa Timur yang diambil tahun 1930.

Dikutip dari penelitian Aryani Ayu W dari FKIP Universitas Jember yang berjudul disebutkan jika belum ada kajian yang pasti mengenai asal usul nama "Jember".


Hanya saja orang-orang sebelum abad ke-16 yang melewati wilayah Jember yang menyebutnya sebagai daerah yang jembrek atau becek.

Kitab Negarakretagama pupuh XXIII mencatat perjalanan Hayam Wuruk  ke Puger dan dilanjutkan ke Bondowoso terus ke Situbondo.

Puger saat ini adalah salah satu nama kecamatan di Kabupaten Jember. Disebutkan kereta yang dinaiki Hayamwuruk sulit berjalan saat melintasi Puger karena jalanan yang sangat sukar, berlumut, dan licin. Lalu disebut jembrek atau becek.

Namun ada penemuan jenis manusia purba homo sapien di daerah watangan Puger pada 1939 oleh para naturalis kolonial yang menandakan jika Jember adalah wilayah yang sangat subur.

Penamaan daerah ‘Jember’ begitu populer setelah orang-orang dari daerah lain bermigrasi ke daerah Jember, di antaranya etnik Mandar dari Sulawesi, Tionghoa, Arab, mayoritas etnik Madura, dan mayoritas etnik Jawa.

Tidak ada yang mengakui bahwa mereka orang asli Jember, melainkan keturunan dari suku asal yang berada di Jember.

Ketika ditugaskan di Jember tepatnya tahun 1825 dan orang-orang Madura melihat wilayah Jember yang berlumpur sama sesuai catatan Negarakretagama pupuh XXIII.

Lihat Foto

digitalcollections.universiteitleiden

Foto pekerja di gudang penyortiran perusahaan tembakau Soemberbahroe, Djatiroto, Jember yang diambil tahun 1920

Etnik mayoritas Madura yang bermigrasi dalam jumlah besar ke daerah Jember menyebut kawasan yang ia tinggali sebagai jhembar, yang berarti sebuah tanah yang luas.

Namun tidak berarti seluruhnya berlumpur. Karena di daerah yang dulunya bernama Besini merupakan tempat yang hijau dan subur. Wilayah tersebut sekarang disebut wilayah Puger.

Itulah mengapa kemudian Jember tidak disebut sebagai ‘wilayah taklukan’, ‘bekas kerajaan’, atau pun ‘nama pemberian jajahan’ karena nama Jember merupakan ungkapan dari orang-orang yang bermigrasi ke daerah Jember, terutama Madura dan Jawa.

Sementara itu di masa kerajaan, Jember menjadi bagian dari kekuasaan Blambangan yang awalnya dikuasai oleh Mengwi, seorang penguasa berdarah Hindu Bali.

Mengwi menggunakan Blambangan sebagai perbatasan untuk menghadang pasukan Islam pimpinan Demak.

Setelah Demak mengalami kehancuran, Mengwi harus berhadapan dengan Pakubuwana II dari kerajaan Mataram Islam.

Sedangkan di sisi lain, para pedagang Inggris yang tiba di Blambangan, melihat daerah di ujung timur Jawa sangat berpotensi membantu usaha England India Company (EIC) memonopoli perdagangan dunia.

Lihat Foto

digitalcollections.universiteitleiden

Foto Kantor Pos, Telegraf, dan Telepon Pembantu di Tanggul, Jember, Jawa Timur diambil tahun 1930

Dua faktor tersebut membuat Belanda harus memasukkan Blambangan sebagai daerah Java’s Oosthoek (Jawa Pojok Timur) sebagai Last Frontier yang yang menentukan wilayah akhir kekuasaan Belanda di tahun 1743.

Belanda menggunakan dualisme kepemimpinan dengan mendukung Pakubuwana II untuk meluaskan pengaruh Islam di Blambangan dan menaklukkan Mengwi beserta peranakan Hindu.

Pada tahun 1768, Belanda akhirnya menaklukkan Malang, Lumajang, dan Blambangan. Mereka pun ikut campur dalam setiap pemerintahan lokal dan menjadikan tiga daerah tersebut sebagai wilayah kekuasaan Java’s Oosthoek.

Tak terkecuali Puger, yang dikelompokkan ke dalam West Blambangan (Blambangan Barat) oleh Belanda.

Di tahun berikutnya, Belanda lebih memusatkan perhatiannya pada Nusa Barong yang merupakan wilayah berpotensi besar akan tetapi sering ditempati oleh para pemberontak Bugis, perompak, narapidana, dan harus dibersihkan

Kala itu Nusa Barong menjadi bagian regentschapt Puger yang dipimpin oleh Kapten Buton, seorang keturunan suku Mandar.

Lihat Foto

digitalcollections.universiteitleiden

Foto Kantor Pos, Telegraf, dan Telepon Pembantu di Rambipuji, Jember tahun 1930

Di masa lalu, Jember menjadi saksi bagi banyak pertempuran di masa kekuasaan Majapahit,. Yang terakhir Jember menjadi saksi bisu dari Kerajaan Blambangan yang harus berhadapan dengan Inggris antara abad ke-17 hingga abad ke-18.

Selama abad ke-16, banyak bukti arkeoligis yang menunjukkan bahwa daerah barat dan selatan Jember padat penduduk.

Namun terjadi perang perang besar di Jawa oosthoek (Jawa Timur) yang menyebabkan kehancuran besar, kelaparan dan wabah di beberapa tempat di Jember dan Bondowoso.

Berdasarkan laporan VOC, dari tahun 1625 ada dua per tiga populasi meninggal di beberapa daerah konflik di Jawa oosthoek.

Jawa oosthoek juga menjadi tempat beberapa konflik antara penguasa Mataram dan Bali hingga akhir abad ke-17.

Akibat konflik yang tak berkesudahan, di awal abad ke-18, hanya sedikit dan hampir tidak ada orang-orang asli yang mendiami dearah sekitar Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan.

Hingga akhirnya datangnya orang-orang Madura ke wilayah Jember dan bekerja di wilayah perkebunan.

Mereka datang ke wilayah yang mereka sebut jhembar dengan harapan memperoleh hidup yang lebih baik. Hingga muncul budaya pendalugan sebagai bentuk hibdridisasi budaya Jawa dan Madura di Jember.

Hingga akhirnya pada tahun 1800, Jember berdiri mandiri di dibawah kepimpinan lokal berstatus sebagai Regentschap atau kabupaten berdasarkan surat J. Haseelaar tertanggal 22 Februari 1806.

 

(KOM)

Total dibaca: 88x | Berikan Komentar!

Hosting Unlimited Indonesia


Oleh: Susi Azizah
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (0)
* Beli Ketupat Beli Pepaya, Gimana Cara Koment Yaa? *
Video Populer

Jasa Pembuatan Aplikasi Website Database Custom!

Pembuatan Website!

BERITA POPULER

Sedang Viral, Busyro Nilai Bagibagi Jabatan Komisaris Cemarkan Demokrasi