Jago Lagu
  • Kamis, 22 Apr 2021
  •  

Lagi Viral, Gereja Katolik Tertua di Kota Semarang Itu Bernama Gereja Gedangan...

Lagi Viral, Gereja Katolik Tertua di Kota Semarang Itu Bernama Gereja Gedangan...

Lagi Viral, Gereja Katolik Tertua di Kota Semarang Itu Bernama Gereja Gedangan... (Kompas)

YukCopas.my.id - Kala itu, arus lalu lintas di sepanjang Jalan Ronggowarsito, Semarang Timur memang cukup ramai. Beberapa kendaraan sesuai mobil juga sepeda motor tampak berlalu lalang.Sepanjang jalan yang berada di kawasan Kota Lama tersebut memang masih banyak berdiri bangunan tua yang masih terawat.Ibu penjual dawet ayu tampak menjajakan dagangannya di tepi jalan di bawah pohon yang rindang.

Asal mula dinamakan Gedangan

Lihat Foto

KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA

Gereja Gedangan Semarang


Gereja tua peninggalan era kolonial itu bernama Gereja Santo Yusuf atau St. Yoseph.Masyarakat lokal lebih mengenal gereja tersebut dengan nama Gereja Gedangan.Sebab, kala itu gereja tersebut dibangun di Jalan Zeestraat-Kloosterstraat-Gedangan."Menurut sejarahnya, gereja gedangan merupakan cikal bakal gereja Katolik tertua di Kota Semarang," kata Gabriel Rinus Madanarwastu Kippuw selaku Ketua OMK Gereja Gedangan saat ditemui.Huruf IHS yang berada di puncak menara merupakan tiga huruf pertama dari nama Yesus sesuai tertulis dalam abjad Yunani. "Dalam bahasa Latin diartikan Iesus Hominum Salvator yang berarti Yesus Penyelamat Manusia," katanya.


 

Dibangun tahun 1870


Lihat Foto

KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA


Tabernakel di Gereja Gedangan

Dia menceritakan pada tahun 1808 Pastor Lambertus Prinsen dikirim dari Belanda ke Hindia Belanda sebagai pendeta untuk Semarang dan beberapa permukiman sekitarnya.

"Saat itu peletakan batu pertama baru dilakukan oleh Pastoor Lijnen pada tahun 1870 dan selesai dibangun pada tahun 1875," ujarnya. Sedangkan, gedungnya dirancang oleh seorang arsitek Belanda, bernama W.I. Van Bakel."Pada 1873 menara yang sudah terpasang sempat roboh, karena tiang yang terbuat dari batu bata tidak kuat menahan beban. Akhirnya, dibangun kembali dengan batu bata yang diimpor dari Belanda," ceritanya.


 

Patung tokoh agung didatangkan dari Jerman


Di dalam ruangan gereja terdapat empat patung tokoh agung dari perjanjian lama dan baru yakni Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek.


Patung tersebut secara khusus didatangkan langsung dari Jerman untuk menghiasi altar lama di atas Tabernakel atau tempat penyembahan. Sedangkan di atas altar ruang gereja terdapat art-glass St Yusuf sebagai sosok pelindung Gereja Katolik Gedangan yang berusia ratusan tahun.

Pipa orgel

Lihat Foto

KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA

Orgel Pipa di Gereja Gedangan


Menariknya, ada orgel pipa atau alat musik gerejawi yang saat itu digunakan untuk menunjang liturgi masih tampak terawat meski telah termakan usia.Di salah satu sudut ruangan gereja diletakan batu nisan Mgr Lijnen pendiri gereja tepat diatasnya berdiri Patung Hati Kudus Yesus yang terbuat dari kayu.Dinding sisi kanan dan kiri ruangan juga dihiasi karya seni ukiran 14 stasi Jalan Salib Tuhan yang mengisahkan perjalanan Yesus dan juga lukisan Triforium bagian dari interior."Gereja ini memiliki dua buah lonceng yang dibunyikan setiap setengah jam sebelum misa dimulai. Kedua lonceng itu berukuran berbeda, satunya lonceng besar dan satunya lagi lonceng kecil," ungkapnya.

 

Uskup pribumi pertama, berani lawan Jepang

Lihat Foto

KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA

Bangku bangku doa di Gereja Gedangan

Jika menilik sejarahnya lagi, siapa sangka gereja yang dibangun dengan nuansa merah batu bata itu juga menyimpan kisah perjuangan pemuda pribumi tatkala bertempur melawan tentara Jepang.

Perlawanan itu dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 15 hingga 19 Oktober 1945."Dulu waktu kepemimpinan Mgr Soegijopranoto dia adalah uskup pribumi pertama. Waktu itu pecah pertempuran banyak korban dan banyak yang melarikan diri akhirnya mereka sembunyi ke Gereja Gedangan," ucapnya.

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting, topik menarik, dan informasi lainnya

Aktifkan

Belum berhasil mengaktifkan notifikasi Kompas.com? Klik di sini

(KOM)

Total dibaca: 93x | Berikan Komentar!


Susi Azizah
Penulis : Susi Azizah
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (2)
Meira Permata Sari
25 Dec 2020, 07:10 WIB

bagus sekali

Eko Putra
25 Dec 2020, 07:10 WIB

ditunggu informasi selanjutnya

Tinggalkan Komentar
Ingatlah untuk selalu berkomentar dengan sopan sesuai pedoman situs ini
* Anda tidak memiliki akses untuk meninggalkan komentar *
TOPIK HANGAT

Jasa Pembuatan Aplikasi Website Custom!

Pesan Sekarang!

BERITA POPULER

Paling Baru, Persija Vs Persib  Ezra Walian Utamakan Juara daripada Gelar Individu