Jago Lagu
Jago Lagu
  • Selasa, 20 Apr 2021
  •  

Cari Tahu, Kerumunan di Malioboro dan Titik Nol Yogya Saat Malam Tahun Baru, Anggota DPRD: Pemkot "Ndableg"

Cari Tahu, Kerumunan di Malioboro dan Titik Nol Yogya Saat Malam Tahun Baru, Anggota DPRD: Pemkot "Ndableg"

Cari Tahu, Kerumunan di Malioboro dan Titik Nol Yogya Saat Malam Tahun Baru, Anggota DPRD: Pemkot "Ndableg" (Kompas)

YukCopas.my.id - Kerumunan saat malam tahun baru pada masa pandemi di Kota Yogyakarta memperoleh respon dari ketua Panitia Khusus (pansus) Covid-19 Kota Yogyakarta. Ketua Pansus Covid-19 Kota Yogyakarta sekaligus anggota DPRD Kota Yogyakarta Antonius Fokki menyayangkan keputusan Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi. Menurutnya, dengan menolak wacana penutupan kawasan Malioboro, Tugu Pal Putih, dan Titik Nol, secara politik sudah tidak mengindahkan rekomendasi yang diberikan DPRD Kota Yogyakarta. "Itu merupakan sikap resmi dan sudah disampaikan dalam rapat paripurna, jadi sangat aneh ketika dalam rapat paripurna tersebut, pansus juga sudah disetujui oleh teman-teman fraksi PAN, di mana Mas Heroe adalah Ketua DPD PAN Kota Yogyakarta," katanya saat dihubungi wartawan, Jumat (1/1/2021).

Menurut Fokki, penolakan penutupan tersebut mencerminkan sikap ndableg dari Pemerintah Kota Yogyakarta, lantaran enggan menjalani penutupan di tiga kawasan tersebut saat malam Tahun Baru. "Pemkot ndableg dan faktanya muncul kerumunan, maka akan mengkaji, apakah rekomendasi dewan yang secara politik ini diabaikan, apakah ke depan berimplementasi hukum," kata dia. Mengingat, sekarang ini telah muncul maklumat dari Kapolri agar tidak ada kerumunan dengan ungkapan apapun. Sambung Fokki, pengkajian tersebut akan segera dilakukan walaupun saat terjadi kerumunan, Pemkot Yogyakarta telah membubarkannya. "Ya menurut saya iya, soalnya kan banyak dari ahli itu menyampaikan, untuk meminimalisir penularan itu adalah dengan menghambat mobilitas," kata dia.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana menambahkan, kerumunan merupakan konsekuensi karena tiga lokasi yang menjadi magnet bagi wistawan yang datang ke kota Yogyakarta. "Saya tidak melihat sendiri hanya melihat dari CCTV yang dimiliki Kominfo memang terlihat sepi, akan tetapi kalau memang ada kerumunan ini konsekuensinya kalau ketiga lokasi tersebut dibuka," kata dia. Dia mempertanyakan pada pukul berapa foto dari CCTV yang menujukkan kondisi sepi diambil. "Kok berbeda ya foto CCTV dengan kenyataannya apakah diambil di jam berbeda atau bagaimana," kata dia. Langkah ke depan yang perlu diambil untuk anitisipasi jika terjadi lonjakan, menurut Huda, adalah dengan menambah tempat tidur yang ada di rumah sakit di Yogyakarta.

Menurutnya, hal tersebut merupakan langkah terakhir yang harus dipersiapkan pemerintah. "Kerumunan sudah terjadi, sekarang berharap tidak terjadi klaster baru. Untuk antisipasi dengan cara menambah kapasitas bed rumah sakit juga tenaga kesehatan," kata dia.

Aktifkan Notifikasimu


Jadilah yang pertama menerima update berita penting, topik menarik, dan informasi lainnya


Aktifkan

Belum berhasil mengaktifkan notifikasi Kompas.com? Klik di sini


(KOM)

Total dibaca: 103x | Berikan Komentar!


Riko Satria
Penulis : Riko Satria
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Ingatlah untuk selalu berkomentar dengan sopan sesuai pedoman situs ini
* Anda tidak memiliki akses untuk meninggalkan komentar *
TOPIK HANGAT

Jasa Pembuatan Aplikasi Website Custom!

Pesan Sekarang!

BERITA POPULER

Parah! 9 Kontainer Jahe Impor Bercampur Tanah Masih Belum Dimusnahkan